27 Mei 2006 (2)
Ritual itu berjalan dengan biasanya, semua berjalan lancar tanpa hambatan. Tak luput seluruh anggota badan juga ikut dibersihkan. Hari ini (Sabtu, 27 Mei 2006) merupakan hari paling bahagia bagi wisudawan dan wisudawati di kampus yang terletak di daerah dingin Kaliurang. Tak terfikir lagi bagaimana rencana bahagia itu akan dilakukan setelah amukan bumi itu terjadi. Wangi-wangianpun tak lupa disemburkan di bagian tubuh. Sebuah kuda besi dipersiapkan untuk melaksanakan rencana yang dulu pernah disepakati, menjual bunga. Kontek sana kontek sini, semua personil siap maju ke medan perang.
Perjalanan dengan kuda besi pagi itu menuju sebuah perhelatan acara tidak terlihat sesuatu yang mencurigakan. Beberapa puluh menit lalu bumi mengamuk, gunung pun terlihat turut emosi. Sawah hijau yang terlihat tentram itu sangat menenangkan perjalanan. Terlihat mata dari beberapa kuda besi yang melintasiku menyala dengan terang. Pengendaranya tidak menggunakan helm, ataupun pengaman tubuh lainnya. Tidak satu, namun banyak kendaraan yang terlihat serupa. Sikapnya pun sama. Melambaikan tangan dan sangat tergesa-gesa. Warga pun terlihat sangat terburu-buru membawa barang-barangnya beserta sanak keluarganya. Beberapa suara aneh terdengar di telinga saya. “Tsunami…!!!!!!!”
Entah ada apa gerangan. Kecepatan kuda besi ditambah untuk mempercepat laju.
Setibanya di Gentan, suasana lalu lintas terlihat sangat padat dan lagi-lagi semuanya terlihat sangat terburu-buru. Tak satupun dari mereka menggunakan pengaman kepala. Kemudian dari arah kost pria sesosok lelaki muda memanggil. Disitulah kuda besi saya hentikan. Ternyata suara aneh yang terdengar tadi juga dilontarkan oleh pemuda itu yang juga kawan saya. Kabar tsunami yang terjadi di bagian selatan ternyata sudah menyebar hingga dataran tinggi itu. Ternyata orang-orang yang terlihat tadi ingin menuju daerah utara yang merupakan dataran tinggi. Wajah cemas, takut, dan panik sangat terlihat. Mereka tak lagi memperdulikan apa yang mereka pakai, apa yang mereka gunakan. Menyelamatkan diri adalah hal prioritas. Mengingat bencana tsunami di Aceh terjadi beberapa bulan lalu yang menyapu ribuan orang.
Daerah selatan dikabarkan dilanda tsunami, kali ini daerah utara yang merupakan tempat menyelamatkan diri dari tsunami juga tak luput dari kabar bencana. Gunung api yang masih aktif itu dikabarkan meluapkan laharnya. Entah akibat dari amukan bumi tadi atau apa. Kejadian yang sama terjadi lagi. Warga yang berasal dari daerah utara yang diliputi rasa takut dan cemas, berbondong-bondong melarikan diri ke daerah yang lebih rendah. Lalu lintas bisa ditebak. Macet dan kepadatan tak bisa dihindari. Utara bertemu selatan. Kabar kabur yang berhembus itu pun semakin menjadi-jadi. Tsunami terjadi di selatan, gunung meletus terjadi di utara. Kemanakah harus menyelamatkan diri?
To be continued…
Bonus track : saat kejadian panik itu banyak “bonus” yang terlihat di jalanan. Gadis-gadis mahasiswi yang menggunakan kendaraan (mobil+motor) dengan panik itu ternyata braless a.k.a ga pake bra
, entah sengaja ga pake atau saking paniknya jadi lupa pake
. Cuma pake daster doang

Powered by ScribeFire.







