Archive for the ‘Aktivitas’ Category

27 Mei 2006 (3)

Posted by yusdi on May-30-2009
Keadaan panik dan bingung itu teredam oleh sebuah mobil SAR yang melintas, dan mengatakan semua hal yang terjadi akibat amukan bumi yang terjadi pagi itu. Tidak ada , tidak ada gunung meletus. Kecemasan warga berkurang, seiring waktu mereka kembali ke rumah masing-masing. Satu persatu mereka mulai kembali. Bertemu sodara, kawan dan sahabat untuk menenangkan hati.

Akhirnya sebuah warung makan memaksa saya untuk singgah untuk menikmati sarapan. Sebuah berukuran kurang dari 21 inch mempertontonkan sebuah berita update mengenai amukan bumi tadi pagi. Selidik punya selidik ternyata amukan bumi tadi bukan berasal dari muntahan sebuah gunung berapi, melainkan adanya pergeseran lempeng bumi di laut selatan. Kekuatan bumi sebesar 5.9 SR itu meluluh lantahkan dataran dan sekitarnya. Tayangan yang ditemani sepiring nasi dan lauk itu juga menayangkan berapa banyak korban amukan bumi tadi. Dari satuan, puluhan, ratusan, hingga ribuan  jiwa menjadi korban. Rumah sakit pun tak lagi mampu menampung korban-korban ini.

Suasana semakin padat dan riwuh. Alat komunikasi tanpa kabel itu terdengar berdering dari mana-mana. Keluarga di negeri sebrang pun was-was akan keluarganya yang sedang menuntut ilmu atau sedang bekerja di . Tak sedikit dari mereka yang tidak bisa berkomunikasi. Hampir semua komunikasi terputus pagi itu. Nada sibuk selalu terdengar dari telepon sellular yang mereka genggam. Melihat kejadian ini, saya mengurungkan niat untuk melaksanakan rencana yang telah dirapatkan malam sebelumnya. Dengan rasa terburu-buru, saya tunggangi kuda besi berwarna hijau itu untuk kembali ke rumah. Ternyata amukan bumi tadi pagi benar-benar sangat dahsyat. Tak satupun dari anggota SC saling berkomunikasi. Rencana penambahan dana itu pun otomatis terbatalkan.

Sesekali amukan bumi masih datang berkunjung. Beberapa malam dilalui dengan rasa cemas dan takut. Rasa trauma yang tidak bisa hilang begitu saja. 

==================end……………….

Dedicated untuk para korban bencana bumi Yogyakarta 27 mei 2006. Semua itu hanya ujian.
Semoga amal kalian diterima di sisi Nya…..Aminnnnnnnn

Selamat buat wisudawan dan wisudawati . kali ini paling berkesan dari semua , karena dilakukan diluar gedung dan diawali oleh .

Info lengkap disini

Powered by ScribeFire.

  • Share/Bookmark

27 Mei 2006 (2)

Posted by yusdi on May-29-2009
Hmmm sampe mana kemaren ya…..Oke, sampe pup…..

Ritual itu berjalan dengan biasanya, semua berjalan lancar tanpa hambatan. Tak luput seluruh anggota badan juga ikut dibersihkan. Hari ini (Sabtu, 27 Mei 2006) merupakan hari paling bahagia bagi wisudawan dan wisudawati di yang terletak di daerah dingin Kaliurang. Tak terfikir lagi bagaimana rencana bahagia itu akan dilakukan setelah amukan bumi itu terjadi. Wangi-wangianpun tak lupa disemburkan di bagian tubuh. Sebuah kuda besi dipersiapkan untuk melaksanakan rencana yang dulu pernah disepakati, menjual bunga. Kontek sana kontek sini, semua personil siap maju ke medan perang.

Perjalanan dengan kuda besi pagi itu menuju sebuah perhelatan acara tidak terlihat sesuatu yang mencurigakan. Beberapa puluh menit lalu bumi mengamuk, gunung pun terlihat turut emosi. Sawah hijau yang terlihat tentram itu sangat menenangkan perjalanan. Terlihat mata dari beberapa kuda besi yang melintasiku menyala dengan terang. Pengendaranya tidak menggunakan helm, ataupun pengaman tubuh lainnya. Tidak satu, namun banyak kendaraan yang terlihat serupa. Sikapnya pun sama. Melambaikan tangan dan sangat tergesa-gesa. Warga pun terlihat sangat terburu-buru membawa barang-barangnya beserta sanak keluarganya. Beberapa suara aneh terdengar di telinga saya. “…!!!!!!!”
Entah ada apa gerangan. Kecepatan kuda besi ditambah untuk mempercepat laju.

Setibanya di Gentan, suasana lalu lintas terlihat sangat padat dan lagi-lagi semuanya terlihat sangat terburu-buru. Tak satupun dari mereka menggunakan pengaman kepala. Kemudian dari arah kost pria sesosok lelaki muda memanggil. Disitulah kuda besi saya hentikan. Ternyata suara aneh yang terdengar tadi juga dilontarkan oleh pemuda itu yang juga kawan saya. Kabar yang terjadi di bagian selatan ternyata sudah menyebar hingga dataran tinggi itu. Ternyata orang-orang yang terlihat tadi ingin menuju daerah utara yang merupakan dataran tinggi. Wajah cemas, takut, dan panik sangat terlihat. Mereka tak lagi memperdulikan apa yang mereka pakai, apa yang mereka gunakan. Menyelamatkan diri adalah hal prioritas. Mengingat bencana di Aceh terjadi beberapa bulan lalu yang menyapu ribuan orang.

Daerah selatan dikabarkan dilanda , kali ini daerah utara yang merupakan tempat menyelamatkan diri dari juga tak luput dari kabar bencana. Gunung api yang masih aktif itu dikabarkan meluapkan laharnya. Entah akibat dari amukan bumi tadi atau apa. Kejadian yang sama terjadi lagi. Warga yang berasal dari daerah utara yang diliputi rasa takut dan cemas, berbondong-bondong melarikan diri ke daerah yang lebih rendah. Lalu lintas bisa ditebak. Macet dan kepadatan tak bisa dihindari. Utara bertemu selatan. Kabar kabur yang berhembus itu pun semakin menjadi-jadi. terjadi di selatan, gunung meletus terjadi di utara. Kemanakah harus menyelamatkan diri?

To be continued…

Bonus track : saat kejadian panik itu banyak “bonus” yang terlihat di jalanan. Gadis-gadis mahasiswi yang menggunakan kendaraan (mobil+motor) dengan panik itu ternyata braless a.k.a ga pake bra  :ngiler: , entah sengaja ga pake atau saking paniknya jadi lupa pake :p . Cuma pake daster doang  :nglamun:

Powered by ScribeFire.

  • Share/Bookmark

27 Mei 2006 (1)

Posted by yusdi on May-28-2009
Satu persatu anggota SC (Steering Committee) mulai berdatangan ke sebuah gedung yang terletak di daerah Kaliurang, Sleman, Jogjakarta. Hari Jumat, Udara dingin yang menusuk malam itu memaksa mereka untuk berkumpul di sebuah sudut gedung. Sandal pun mereka jadikan alas untuk duduk pada sebuah lantai yang terpaku dingin. Ucapan salam dilontarkan oleh seorang sekertaris pertanda dimulainya rapat. Rapat yang membahas acara paling akbar di kalangan mahasiswa T.Informatika itu ditemani oleh suasana dingin, 2 bungkus roti bakar, dan beberapa botol air mineral. Setiap Komisi telah menyiapkan laporan dan persiapan yang akan dilakukan selanjutnya. Hingga tiba saat Komisi C, komisi yang berkutat dibagian keuangan. Untuk mendapatkan dana tambahan, komisi ini telah menyiapkan beberapa strategi, salah satunya berjualan bunga mawar yang akan dijual pada saat acara yang akan dilaksanakan esok hari (Sabtu, 27 Mei 2006).  Tugas telah dibagi, dan rencana siap di jalankan esok pagi. Sekitar pukul 10 malam, memaksa mereka untuk membubarkan diri. Kembali rapat ditutup oleh Sekertaris. Kamipun pulang ke rumah dan kost masing².

Saya seperti biasanya melewati jalan kampung untuk mencapai rumah dengan cepat. Kembali dinginnya malam menusuk dada, hingga saya harus memperlambat laju si kuda besi, dan memasukkan salah satu tangan saya ke kantong jaket. Malam itu tidak berbeda dengan malam sebelumnya, dingin dan tenang. Perjalanan sekitar 30 menit itu membuat saya menjadi sangat ngantuk. Terlebih cuaca dingin terus menggebuk memaksa untuk menemani bantal, guling dan selimut. Tidur terlelap tanpa sebuah mimpi yang menghampiri.

Hingga pagi itu sekitar pukul 6, rumah berteriak-teriak, dinding menari-nari, dan lukisan di dinding dihadapan saya bergejolak dan berputar hampir 90 derajat. Seorang teknisi rumah meggedor pintu kamar membangunkan saya dari tidur tanpa mimpi itu. Rasa takut dan panik bersamaan dengan cepat menhampiri saya. Semua pintu sama. Rasa panik itu menghapus cara berfikir, dan ingatan secara cepat. Sebuah pintu balkon seketika itu menjadi sama dengan pintu keluar kamar. Sontak saya kaget, dan kembali mencari pintu keluar yang tepat. Tidak ada yang bisa berjalan dengan baik pada saat itu. Lantai yang bergoyang membuat kami berjalan dengan tangan menopang pada dinging. Salah seorang teknisi rumah lainnya terduduk menangis di taman rumah. Teriakan memanggilnya untuk keluar menjauhi rumah. Membuka kunci gembok merupakan hal yang paling sulit untuk dilakukan saat itu.

Tak lama kemudian gemuruh amukan bumi itu terhenti. Semua terdiam sejenak, dan terduduk di pinggir kali kecil yang masih bergejolak. Langit saat itu terlihat biru dan sedikit awan yang menemaninya. Terlihat dari arah utara, Gunung Merapi juga terlihat menampilkan kegarangannya. Sejenis awan atau asap tebal terlihat dimuntahkan oleh gunung ini. Seketika otak ini berfikir Gunung merapi telah mengeluarkan seluruh isinya. Memang pada saat itu kondisi Merapi sedang tidak bersabat dan diramalkan akan meletus dalam waktu dekat. Warga sekitar juga nampak mengeluarkan kendaraan roda empat-nya dari garasi untuk menghindari adanya susulan.

Beberapa menit berlalu, kali yang tadinya masih bergejolak akibat amukan bumi kembali tenang dan mengalir dengan damai. Kamipun kembali masuk ke rumah. Beling-beling hasil dari amukan bumi tadi terlihat berserakan di lantai. Sebuah guci yang bertuliskan nama Tuhan itu lagi tak berbentuk. Gelas di rak tersusun berantakan. Entah kenapa saya menuju sebuah ruangan kecil dan melakukan ritual seperti biasanya. Pup…. :D

To be continued…

Powered by ScribeFire.

  • Share/Bookmark
blogyus © 2008 | Powered by WordPress And ScribeFire | Morning theme re-design by yusdi