27 Mei 2006 (1)
Saya seperti biasanya melewati jalan kampung untuk mencapai rumah dengan cepat. Kembali dinginnya malam menusuk dada, hingga saya harus memperlambat laju si kuda besi, dan memasukkan salah satu tangan saya ke kantong jaket. Malam itu tidak berbeda dengan malam sebelumnya, dingin dan tenang. Perjalanan sekitar 30 menit itu membuat saya menjadi sangat ngantuk. Terlebih cuaca dingin terus menggebuk memaksa untuk menemani bantal, guling dan selimut. Tidur terlelap tanpa sebuah mimpi yang menghampiri.
Hingga pagi itu sekitar pukul 6, rumah berteriak-teriak, dinding menari-nari, dan lukisan di dinding dihadapan saya bergejolak dan berputar hampir 90 derajat. Seorang teknisi rumah meggedor pintu kamar membangunkan saya dari tidur tanpa mimpi itu. Rasa takut dan panik bersamaan dengan cepat menhampiri saya. Semua pintu sama. Rasa panik itu menghapus cara berfikir, dan ingatan secara cepat. Sebuah pintu balkon seketika itu menjadi sama dengan pintu keluar kamar. Sontak saya kaget, dan kembali mencari pintu keluar yang tepat. Tidak ada yang bisa berjalan dengan baik pada saat itu. Lantai yang bergoyang membuat kami berjalan dengan tangan menopang pada dinging. Salah seorang teknisi rumah lainnya terduduk menangis di taman rumah. Teriakan memanggilnya untuk keluar menjauhi rumah. Membuka kunci gembok merupakan hal yang paling sulit untuk dilakukan saat itu.
Tak lama kemudian gemuruh amukan bumi itu terhenti. Semua terdiam sejenak, dan terduduk di pinggir kali kecil yang masih bergejolak. Langit saat itu terlihat biru dan sedikit awan yang menemaninya. Terlihat dari arah utara, Gunung Merapi juga terlihat menampilkan kegarangannya. Sejenis awan atau asap tebal terlihat dimuntahkan oleh gunung ini. Seketika otak ini berfikir Gunung merapi telah mengeluarkan seluruh isinya. Memang pada saat itu kondisi Merapi sedang tidak bersabat dan diramalkan akan meletus dalam waktu dekat. Warga sekitar juga nampak mengeluarkan kendaraan roda empat-nya dari garasi untuk menghindari adanya gempa susulan.
Beberapa menit berlalu, kali yang tadinya masih bergejolak akibat amukan bumi kembali tenang dan mengalir dengan damai. Kamipun kembali masuk ke rumah. Beling-beling hasil dari amukan bumi tadi terlihat berserakan di lantai. Sebuah guci yang bertuliskan nama Tuhan itu lagi tak berbentuk. Gelas di rak tersusun berantakan. Entah kenapa saya menuju sebuah ruangan kecil dan melakukan ritual seperti biasanya. Pup….
To be continued…
Powered by ScribeFire.









Reply
wah … mash di akhiri dengan pup …
saksi bisu neh mas gempa d yogya ?!?!
Reply
kok awal2 ceritanya kayak cerita horor gitu ya yus?
Reply
@masnoer, ya ritual…gitu deh
.gif)
@afwan, saksi bisu? saya masih bisa bicara koq….
@koole, woh hooh yo…..yoben,,biar mistisnya keluar…..
Reply
Add A Comment